13 Januari 2014

Satu Waktu Dikamar Itu

Posted by with No comments

Dikamar yang tak begitu besar, aku disini, terdiam.

Cahaya pun mengintip dibalik tirai jendela ingin tahu apa yang aku lakukan dikamar gelap itu. Suara gemericik air hujan diluar menjadi alunan lagu khas yang entah mengapa menurutku indah. Duduk terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu. Ya, tentunya aku tidaklah sendiri, kali ini segelas kopi panas menemani dalam diam.

Aku tak mengerti mengapa banyak hal yang kini memenuhi pikiranku. Hal-hal yang pastinya berkaitan denganmu. Aku khawatir, aku gelisah. Tetapi aku bingung mengapa harus khawatir dan gelisah? apa pula yang aku khawatirkan dan aku gelisahkan ini?

Tanda Tanya besar kini bersarang dibenakku. Sesekali aku lihat keluar jendela berharap hujan diluar dapat membawa kegelisahan ini bila aku dibawahnya. Tapi tak yakin hujan akan menolongku membawa kegelisahan ini dan takkan membawanya kembali.

Ah.. memikirkannya membuatku lelah, kadang sesakpun menyerang dada. Aku menyeruput kopi yang kini sudah dingin, setidaknya kopi ini masih terasa nikmat di lidahku.
Diam, masih diam.. entah sampai kapan aku betah berdiam diri dengan kegelisahan ini. Mungkin aku akan mencoba membiarkannya. Membiarkannya bermain-main dengan hatiku.

Kini cahaya pun bosan melihat aku yang sedari tadi hanya diam tak bersuara. Perlahan-lahan dia pergi dari balik tirai jendela dengan rasa ingin tahunya. Hujan pun mulai mereda seolah-olah lelah dan ingin meninggalkanku juga.


Ah.. biarlah perasaan ini akan aku bawa sendiri, takkan ku bagi pada cahaya sore, takkan ku bagi pada hujan, dan takkan ku bagi pada siapapun. Aku akan membiarkan rasa ini tetap ada dan aku akan menikmatinya, sebagaimana menikmati kopi yang sudah dingin ini hingga rasa ini menghilang dengan sendirinya.


0 komentar:

Posting Komentar